Pasar penjualan mobil di Indonesia belum pulih penuh karena volume penjualan belum kembali ke level satu juta unit per tahun. Pencapaian terakhir yang menembus angka itu terjadi pada 2023, saat total penjualan berada di 1.005.802 unit.
Pergerakan pada 2025 memang terlihat lebih rapi dari target revisi industri, tetapi angka ritel masih berhenti di 833.692 unit. Konsumen pun belum menunjukkan nafsu belanja yang konsisten, karena banyak pembeli memilih menunda transaksi besar ketika pendapatan rumah tangga terasa ketat.
Tekanan itu mendorong proyeksi 2026 cenderung datar. Daya beli yang melemah membuat calon pembeli bersikap lebih hati hati, lalu sebagian orang menggeser minat ke opsi yang lebih murah. Tren itu biasanya muncul lewat pembiayaan mobil bekas yang tetap tumbuh, saat pembiayaan mobil baru melambat dan menyusut. Ketidakpastian insentif otomotif juga ikut menahan pasar, karena banyak pihak menilai penjualan 2026 hanya bergerak tipis dari 2025, lalu kembali mendatar. Pada skenario tanpa insentif yang kuat, sejumlah pengamat memproyeksikan volume 2026 berada di kisaran 700 ribu sampai 800 ribu unit jika ekonomi tidak membaik.
Istilah ruang fiskal yang terbatas berarti pemerintah memiliki kelonggaran anggaran yang sempit untuk memberi stimulus besar dan berulang. Kondisi itu membuat dorongan kebijakan sulit terasa cepat di showroom. “Kami berharap pemerintah mengambil kebijakan kontra siklus saat ekonomi melambat,” kata Wakil Presiden Direktur TMMIN. Pada saat yang sama, berakhirnya insentif tertentu per 1 Januari 2026 juga berpotensi mengerek harga EV, lalu mendorong sikap menunggu dari konsumen.
